Semarang, Ditjen Diksi – Cikal bakal nama SMKN 6 Semarang, Jawa Tengah, nyatanya memiliki sejarah nan panjang. Berawal dari Sekolah Kesejahteraan Keluarga Atas (SKKA) Persiapan Negeri Semarang yang terbentuk pada 1 Januari 1969 silam dengan menumpang SKKP Negeri Semarang, lalu berpindah tempat  lantaran telah menyandang SKKA Negeri Semarang, kemudian berubah nama lagi menjadi Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga (SMKK) Negeri Semarang, hingga kini akhirnya menjadi SMKN 6 Semarang.

Tercatat, sejak 1985 sekolah kejuruan ini telah membuka dua jurusan, yakni boga dan busana. Lalu pada 1987 bertambah jurusan tata rias kecantikan, serta kini dilengkapi dengan perhotelan. “Kami memiliki 15 kamar yang terdiri atas lima kamar untuk praktik siswa, serta sepuluh untuk disewakan supaya siswa dapat mengetahui persis bagaimana cara kerja di industri nantinya,” terang Almiati, Kepala SMKN 6 Semarang.

Adapun sarana-prasarana jurusan lainnya juga terbilang mencukupi, mulai dari dapur masak modern untuk jurusan tata boga, ruangan yang dilengkapi peralatan salon dan massage untuk jurusan tata rias kecantikan, mesin-mesin jahit bagi jurusan tata busana, hingga ruang anyar perpustakaan nan nyaman. Meski, “Masih terdapat beberapa mesin jahit lama yang tidak sesuai standar,” ujar Almiati kepada tim laman Vokasi Kemendikbud, Senin (24/8).

Namun demikian, karya para siswa SMKN 6 Semarang ini terus berkembang, imbuh Almiati.  Misal di jurusan tata busana, mereka kini dapat memproduksi baju seragam sendiri, mengkreasi tempat tisu dengan ragam motif, hingga memproduksi ribuan baju alat pelindung diri (APD) yang diperuntukkan bagi tenaga kesehatan yang tengah berjuang melawan Covid-19.

Demikian juga jurusan tata boga yang telah berhasil meracik hidangan ikan bandeng yang banyak dipesan oleh masyarakat.  Sebelum masa pandemi, jurusan ini juga setiap harinya memproduksi kue donat seharga Rp2.000 yang tak hanya laris dijual ke masyarakat sekitarnya, namun juga menjadi jajanan favorit para siswanya.

Jurusan tata rias kecantikan pun tak kalah gesit. Meski hanya membuka dua kelas setiap tahunnya, lulusan jurusan ini dipastikan langsung diserap oleh industri. misalnya salon maupun perhotelan. Dari jurusan ini pun telah dihasilkan produk minuman tradisional yang mengusung brand Ratu Cantik dengan hasil olahannya berupa jamu beras kencur, kunir asem, hingga bir peletok.

Dengan berbagai kreativitas yang dimiliki para siswanya, maka tak heran bila jumlah keterserapan lulusan sekolah di sekolah kejuruan yang kini tengah menampung 1.366 peserta didik ini berkisar di atas 90 persen setiap tahunnya, baik yang bekerja di industri, wirausaha mandiri maupun melanjutkan ke perguruan tinggi. Ditambah lagi, SMKN 6 Semarang sendiri juga tercatat telah melakukan kerja sama dengan banyak pihak industri, misalnya dengan Indonesian Hotel General Manager (IHGM) Jawa Tengah yang turut menempatkan para siswanya untuk rekrutmen praktik kerja lapangan (PKL) dan Eterna Garment yang turut menyerap lulusan SMK serta pelatihan guru.

Meski belum sempurna, nyatanya sekolah ini juga telah melakukan beberapa program “link and match” sejak lama, di antaranya adalah kurikulum disusun dengan melibatkan pihak industri, menghadirkan dosen tamu dari pihak industri maupun mengirim tenaga pengajar untuk belajar di industri. Karenanya, “Kami harus lebih akrab dengan program ini, bukan sekadar penandatanganan MoU,” tegas Almiati.

Tak hanya terus berkreasi menghasilkan produk, para siswa SMKN 6 Semarang juga kerap menuai prestasi dalam berbagai ajang lomba bidang akademik maupun non-akademik. Sepanjang 2019 lalu, sekolah ini berhasil menggaet Juara I Cooking Competition Hotel Ibis di Semarang, Juara II Hotel Accomodation dan Ladies and Mens Hairdressing LKS Jateng ke XXVIII, serta medali perunggu Kejuaraan Wushu Piala Rektor Unnes tingkat nasional. (Diksi/AP)

sumber: https://www.vokasi.kemdikbud.go.id/read/smkn-6-semarang-cetak-sdm-unggul