Kepala SMK Negeri 6 Semarang, Dra. Ummi Rosydiana, M.Par, memperoleh kepercayaan dari Direktorat Pembinaan SMK mempresentasikan best practice tentang Revitalisasi SMK dalam forum “Fourth High-Level Meeting on Country-Led Knowledge Sharing” atau HLM 4 on CKS, yang diselenggarakan oleh Kementerian PPN/Bappenas bekerja sama dengan World Bank Group, di Inaya Putri Bali Hotel, Nusa Dua, Bali dari tanggal 15 – 17 Oktober, 2018. Adapun HLM4 on CKS sendiri masih merupakan bagian dari rangkaian Annual Meeting IMF-WBG 2018. Pertemuan tersebut tahun ini mengangkat tema “Local Innovation as Driver Global Development”. Presentasi kepala sekolah pada forum tersebut berjudul “Industrial Classes in SMK Negeri 6 Semarang”. Dalam presentasinya disampaikan bahwa berdasarkan Inpres No 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Kejuruan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2018 menetapkan 219 sekolah sebagai SMK rujukan revitalisasi nasional dan hanya 5 di antaranya terpilih sebagai sekolah rujukan prioritas, salah satunya adalah SMK Negeri 6 Semarang untuk bidang keahlian Pariwisata. SMK Negeri 6 Semarang ditetapkan sebagai sekolah rujukan prioritas di tahun 2018 karena kesuksesannya dalam menyelesaikan rencana dan program revitalisasi sekolah pada tahun sebelumnya. Kesuksesan tersebut terwujud karena kinerja kepala sekolah yang selalu taat pada semua kebijakan dan aturan serta berpegang teguh pada komitmen dan visi pengembangan sekolah. Selain itu, kepala sekolah selalu mendasarkan pada kemampuan leadershipnya dalam tugas-tugas managerial.
Visi SMK N 6 adalah terwujudnya sekolah yang mampu bersaing di era global. Hal ini sejalan dengan tujuan revitalisasi sekolah kejuruan yaitu meningkatkan produktifitas dan daya saing bangsa dengan cara membekali para lulusan dengan keterampilan abad 21 untuk meningkatkan kebekerjaan. Untuk itu, SMK N 6 Semarang sangat termotivasi untuk mengimplementasikan perubahan dalam bidang kurikulum, inovasi pembelajran, kualitas guru, sarana prasarana, kerjasama industri dan pengelolaan kelembagaan, seperti yang terangkum dalam 6 peta jalan revitalisasi sekolah kejuruan.
Program utama yang dijalankan dalam hal kerjasama dengan industri adalah kelas industri dengan bekerja sama dengan 3 industri sejak awal tahun 2018, yaitu dengan PT Mina Makmur, suatu perusahaan home industri yang memproduksi bandeng presto, makanan khas yang terkenal dari Semarang, Pands Collection, suatu perusahaan yang memproduksi dan menjual busana muslim dan L’Oreal Indonesia untuk pewarnaan rambut.
Kelas industri kompetensi keahlian kuliner telah dilakukan sejak 2017 ketika PT Mina Makmur mengirim seorang pakarnya untuk mengajar para siswa memproduksi bandeng presto. Sejak saat itu kelas industri Kuliner berjalan dengan lancar. Kelas industri ini berlangsung berdasarkan pesanan. Pesanan rata-rata setiap bulan sekitar 150 ekor. Dalam waktu kurang dari 1 tahun omsetnya mencapai sekitar 16 juta rupiah. Kelas industri kompetensi keahlian Busana juga dimulai tahun 2017. Kelas industi ini berkembang dengan sangat baik dengan memproduksi seragam praktik untuk siswa baru. Sampai dengan bulan September 2018 omsetnya mencapai lebih 122 juta rupiah. Sedangkan kelas industri kompetensi Keahlian Kecantikan bekerja sama dengan L’Oreal Indonesia baru di mulai bulan Agustus. 5 hari dalam 1 bulan seorang pelatih dari L’Oreal Professional datang ke sekolah untuk membantu guru yang sudah dilatih sebelumnya untuk menyampaikan materi Hair Coloring. Sampai saat ini program tersebut masih berlangsung. Program pendampingan tersebut direncanakan untuk berlangsung selama satu tahun.
Mengingat bahwa 4 tujuan dari kelas industri adalah menyiapkan siswa untuk menjadi lulusan yang kompetitif, siap kerja dan siap pakai, serta lulusan yang bekerja pada bidang yang linear dengan kompetensi keahlian adalah 75% di tahun 2019, daftar tunggu permintaan industri akan tenaga kerja sejak sebelum siswa lulus meningkat dan masa tunggu lulusan dalam memperoleh pekerjaan semakin pendek, maka dampak yang diharapkan dari kelas industri ini adalah pengakuan industri semakin meningkat, angka pengangguran lulusan SMK di sektor Pariwisata berkurang, dan juga meningkatnya prestasi siswa di tingkat nasional, Asean dan dunia.
Setelah berjalan selama hampir satu tahun, kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kelas industri adalah rendahnya soft skill/sikap siswa, kurangnya kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana, serta kurang maksimalnya link and match dengan industri, selain belum adanya kepastian peraturan tentang kelas industri, dan juga kurangnya dukungan finansial dari stake holders. Untuk itu demi tercapainya tujuan kelas industri sesuai yang diharapkan maka diperlukan arahan dan petunjuk yang memadai dari pemerintah, membangun kerja sama yang lebih intensif dengan industri, dan menjalin kebersamaan yang solid dengan komunitas SMK se Indonesia